Search Engine Submission - AddMe

Free SEO Tools

TEGALBULEUD

17 December 2014

POKMASWAS TEGALBULEUD NUSANTARA

Pokmaswas Tegalbuled Nuantara merupakan organisasi kelompok masyarakat yang berlandaskan hukum, berazaskan Pancasila dan UUD 1945 serta didasari Iman dan Taqwa.

Organisasi ini didirikan sejak 05 Januari 2010 yang berkedudukan di Kecamatan Tegalbuleud Kabupaten Sukabumi.

Pokmaswas Tegalbuleud Nuantara didirikan dengan maksud agar potensi sumberdaya yang ada di Wilayah Kecamatan Tegalbuleud Kabupaten Sukabumi terutama Pesisir Pantai dan sungai bisa terjaga kelestariannya.

Adapun tujuannya agar potensi sumberdaya yang ada di Wilayah Pesisir Pantai dan sungai Kecamatan Tegabuleud Kabupaten Sukabumi bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Kelompok ini bersifat dinamis, fleksibel, sosial kemasyarakatan dan tidak mengejar keuntungan. Kelompok ini lebih menekankan untuk kepentingan masyarakat setempat yang bersifat terbuka, independen, serta menghindari sikap-sikap anarkis atau mengintimidasi Hak-hak Azasi Manusia (HAM).


Tugas, peran dan fungsi serta kepengurusannya diatur lebih lanjut berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Kegiatan yang telah dilaksanakan selama berdirinya Pokmaswas adalah sebagai berikut:

1. Penangkapan Penyalahgunaan pada penangkap ikan yang melakukan Ilegal Fishing, seperti :
  • Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya atau dampak buruk yang akan terjadi jika melakukan illegal Fishing sekaligus memberikan informasi hukum terhadap para pelaku illegal Fishing;
  • Penangkapan pada penangkap ikan yang menggunakan racun atau obat-obatan berbahaya bagi kelestarian ikan;
  • Penangkapan pada orang yang melakukan penangkap ikan dengan menggunakan alat Setrum Ikan;
  • Penangkapan pada orang yang merusak/menebang pohon-pohon pelindung di area Sempadan Pantai dan Sungai.

2. Pelestarian alam dengan melakukan penghijauan penanaman mangrove, ketapang, cemara udang dan kelapa di kawasan Sempadan Pantai dan Sungai. Selain itu, Pokmaswas Tegalbuleud Nusantara melakukan pelestarian alam dengan melakukan penanaman bibit ikan tawes, nila, sepat dan lain – lain di Sungai – sungai dan Rawa – rawa sekitar Wilayah Tegalbuleud.


Adapun prestasi yang sudah dicapai adalah :

  • Juara Pertama Tingkat Kabupaten Sukabumi Tahun 2014 Kategori “ BIDANG PENANGKAPAN”
  • Juara Pertama Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 Kategori “ BIDANG PENANGKAPAN”
  • Juara Pertama Tingkat Nasional Tahun 2014 Kategori “ BIDANG PENANGKAPAN”

09 November 2013

Warga Sambut Baik Kereta Sukabumi-Bogor





Metrotvnews.com, Bogor: Pengoperasian Kereta Api Pangrango rute Bogor-Sukabumi mulai Sabtu (9/11) disambut baik sejumlah warga Kota Bogor yang mendukung penuh operasional kereta tersebut.

"Saya pribadi menyambut baik atas diaktifkannya jalur Bogor-Sukabumi, sehingga jadi ada alternatif untuk dari dan ke Sukabumi," kata Andi Ardianysah salah seorang anggota Komunitas Semboyan 35, Sabtu (9/11).

Menurut Andi, sejak dinonaktifkannya KRD Bumi Geulis yang melayani rute Bogor-Sukabumi, warga kesulitan akses menuju Sukabumi melalui jalur darat karena jalur yang sering macet terutama di wilayah Ciawi.

"Karena sekarang jalur darat agak susah menempuh dari Bogor ke Sukabumi, lewat jalan raya dengan waktu tempuh bisa berjam-jam," kata dia.

Andi berharap dengan diaktifkannya kembali kereta api rute Bogor-Sukabumi, diikuti dengan adanya peningkatan jalur rel Bogor-Sukabumi. Seperti penggantian bantalan besi menajdi beton dan penggantian rel dari tipe R33 menjadi R54).

Menurut Andi, hal ini agar jumlah rangkai kereta bisa diperpanjang dan frekwensi perjalanan bisa ditambah.

Sementara itu menurut Rizky Budiawan, merasa sangat terbantu dengan operasional Kereta Api Pangrango rute Bogor-Sukabumi.

Sebagai warga Sukabumi yang berdomisili di Bogor, menganggap kehadiran kereta api tersebut membantu memenuhi kebutahan masyarakat baik dari Bogor maupun Sukabumi.

"Saya terbantu sekali dengan adanya kereta api Bogor-Sukabumi ini. Harapan saya semoga adanya kereta Pangrango ini, bisa memenuhi keinginan masyarakat Sukabumi, yang mengharapkan transportasi bebas macet," ujarnya.

KA Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi akan dioperasikan mulai Sabtu besok. Berbeda dari sebelumnya, kereta tersebut melayani tiga kali perjalanan dari Bogor.

KA Pangrango berangkat setiap lima jam. Dari Bogor kereta keberangkatan mulai pukul 07.30 WIB, lalu pukul 12.30 dan 17.30. Sedangkan dari Sukabumi kereta berangkat dari pukul 05.00, 10.00 dan 15.00 WIB.

Kereta jalur Bogor-Sukabumi ini terdiri atas dua rangkai KA Pangrango yang setiap rangkaian terdiri dari satu lokomotif, satu kereta eksekutif, tiga kereta ekonomi dan satu gerbong pembangkit.

Setiap rangkaian kereta penumpang ini dilengkapi penyejuk udara, dengan kapasitas penumpang sebanyak 368 kursi.

Untuk kelas ekonomi AC terdapat 318 kursi dengan tiket Rp15.000 per penumpang, sedangkan kelas eksekutif terdapat 50 kursi dengan tarif Rp35.000 per orang.

Sebelumnya, kereta jalur Bogor-Sukabumi dilayani oleh KRD Bumi Geulis, dengan jadwal keberangkatan sekali dari Bogor dan Sukabumi.

Kereta tersebut merupakan rangkaian kereta ekonomi tanpa penyejuk udara, dengan tarif Rp8.000 per penumpang.

Karena kerap rusak, KRD Bumi Geulis dinonaktifkan terhitung sejak 15 Desember 2012. Akibatnya penumpang beralih menggunakan transportasi darat.

Menurut Kepala Stasiun Besar Bogor, Weddy Hartono, selama KRD Bumi Geulis dinonaktifkan banyak penumpang yang kerap bertanya kapan dioperasikan kembali.

"Memang jumlah penumpang KRD Bumi Geulis cukup banyak. Selama dinonaktifkan masih banyak penumpang yang bertanya. Semoga dengan diaktifkannya kembali jalur Bogor-Sukabumi, dapat memenuhi keinginan masyarakat," ujarnya. (Ant)



Editor: Asnawi Khaddaf


Sumber Informasi :

http://www.metrotvnews.com

Tegalbuleud dan Bijih Besi

Asumsi yang berkembang - sejak dua tahun- terakhir ini adalah ” daerah pinggiran Kab. Sukabumi, dari Ujung Genteng hingga Cidaun (Cianjur Selatan) merupakan daerah kaya akan sumberdaya alam (SDA)”. Asumsi ini lebih mengerucut saat ditemukan, pasir besi, bijih besi, hi
ngga uranium terbaik di dunia di sekitar Kecamatan Tegalbuleud. Terjadi pembebasan lahan masyarakat secara massive bahkan cenderung sporadis dengan tanpa ada konsensus yang jelas antara pembeli lahan dengan para penjual kecuali persoalan jual-beli semata.

Kemudian, dibangunlah di wilayah tersebut pabrik pasir besi. Sudah pasti mudah ditebak, pemilik pabrik bukan merupakan penduduk asli negeri ini kecuali para investor dari RRC. Pembangunan pabrik bijih besi tidak berdiri begitu saja, namun diikuti oleh dikeruknya dua sumberdaya alam terbaik di dunia, bijih besi dan uranium. Pihak perusahaan - demi alasan keamanan - telah membentengi daerah penggalian dan pengerukan pasir besi dengan pagar beton.

Satu tahun lalu, masyarakat pernah mempertanyakan akibat yang akan ditimbulkan ke depan dari pengeksploitasian pasir besi di wilayah Tegalbuleud ini. Sebagian dari masyarakat memberikan penilaian, pengeksploitasian pasir di daerah pinggiran pantai memiliki dampak riskan ke depan. Bahkan kerugian terbesar tidak hanya terhadap lingkungan saja, juga terhadap pengeksploitasian sumberdaya alam negara ini oleh masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi harus jeli membaca persoalan ini. Sebuah wilayah tidak hanya dibangun atas dasar dengan mudahnya para investor menanamkan modal di wilayah tersebut. Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada dasarnya bukan semata hanya dinilai dari investasi-investasi yang diberikan oleh para investor, lebih dari itu harus diperhatikan akibat yang ditimbulkan oleh pengeksploitasian pasir besi, bijih besi, dan uranium oleh para investor. Kerugian darinya harus diperhitungkan, jika seorang warga menjual tanah kepada investor rata-rata Rp. 300.000/meter, faktanya negara akan mengalami kerugian ±20 meter kubik pasir besi dalam 1 meter. Jika eksploitasi dan penggalian lebih dalam, maka kerugiannya pun akan semakin besar juga.

Konsensus seperti di atas sama sekali lepas dari perhitungan, bahkan masyarakat pemilik lahan yang telah dibebaskan pun sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Jika benar dengan adanya eksploitasi pasir besi dan bijih besi pemerintah Kabupaten Sukabumi diuntungkan maka harus ada alasan yang tepat kalau Kabupaten Sukabumi tidak mendapat julukan Desa Tertinggal, karena realitanya Kabupaten ini merupakan daerah yang kaya dengan sumberdaya alam dan mineral. Hanya saja, fakta yang terjadi, pemerintah hanya mendapatkan beberapa persen saja dari pengeksploitasian sumberdaya alam oleh para investor dan pihak swasta. Ketika hal ini terjadi, tidak seharusnya ada alasan pembiaran oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi terhadap aktivitas eksploitasi pasir besi, bijih besi, dan uranium terbaik di dunia. Bagaimana pun juga, pemerintah harus melakukan pengawasan ketat agar kekayaan alam negeri ini tidak menguap dan hilang begitu saja tanpa dinikmati oleh penduduknya.

Kecendrungan ‘Laizzes Faire’, pembiaran terhadap aktivitas eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan bukan merupakan bagian dari aturan bermain AFTA dan pasar bebas. Penekanan AFTA jelas berpihak secara sebelah menyebelah, adanya penekanan keseimbangan antara para investor dan tuan rumah. Kesalahan dalam menilai AFTA justru akan berakibat pada rendah dirinya sebuah bangsa, runtuhnya tatanan nilai akibat sikap prustrasi warga negara, para investor sebagai pemilik modal akan dibesar-besarkan sebagai ‘tuan’ sementara tuan rumah akan diposisikan sebagai ‘hamba’. Akan menjadi berita pahit, saat para pemilik pabrik dan poor-mannya memaki para pekerja kemudian keberpihakan dari Pemerintah sama sekali tidak tampak karena lemahnya pengawasan terhadap hal ini.

Pernahkah kita -terlebih pemerintah- berpikir, hasil pengeksploitasian pasir besi, bijih besi, dan uranium di Tegalbuleud tersebut dibawa ke mana? Diolah untuk keperluan apa? Hal-hal mendasar seperti ini pasti luput dari diri kita dan pemerintah. Lebih jauh, pernahkah terpikirkan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam oleh pemerintah sendiri atau oleh investor dari dalam negeri? Jika tidak terbersit sedikit pun pikiran itu, maka negara ini memang telah gagal mencetak pemerintah. Jangan disepelekan, penjajahan ekonomi pada akhirnya akan berdampak pula pada penjajahan fisik dan mental. Lihatlah para pekerja di pabrik-pabrik. Bahkan mental kita telah dicetak sebagai peminta-minta, premanisme dan centeng-centeng pabrik pun berdiri dengan angkuh karena ingin mengabdi kepada para investor sebagai ‘boss’ mereka namun bersikap kasar terhadap para buruh pabrik.


Sumber Informasi :



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More